Selasa, 31 Mei 2011

Lomba Menulis Cerpen "Indonesia dan Pena"

Deadline lomba cerpen: 30 Juni 2011

Dengan Mengusung Seni Sastra didalam kepribadian menulis bagi para penerus bangsa, Pelajar Tanah Air didalam berkompetisi menulis bebas dalam bentuk Cerpen (Cerita Pendek) yang bertemakan “Indonesia dan Pena”.

“Kompetisi Cerpen” ini dikhususkan untuk Pelajar SD, SMP, SMA dan Mahasiswa diseluruh Tanah Air. Tema yang bertajuk “Indonesia dan Pena” dapat dikategorikan seperti:
  1. Cerita Lingkungan Hidup sehari-hari.
  2. Cerita tentang penyalahgunaan aturan-aturan di Indonesia.
  3. Cerita tentang Bencana Alam.
  4. Cerita dengan nuansa Cinta, Kepada; Orang Tua, Sahabat, Pacar, Tanah Air, dll.
  5. Cerita Horor/Misteri yang pernah dengar dari orang lain/dialami sendiri.
  6. Cerita Lucu, Seru-seruan, Gokil, Jayus, Jahil, yang pernah ada.
  7. Cerita tentang tokoh yang paling kamu kagumi/idolakan.
Persyaratan :
  1. Memiliki blog/web pribadi dan wajib memasang banner* “Indonesia dan Pena” pada blog dan didalam tulisan Cerpen yang akan diikutkan kompetisi ini.
  2. Lomba berlaku bagi pelajar SD, SMP, SMA dan mahasiswa.
  3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia kreatif, unik, serapan dan bahasan sehari-hari.
  4. Panjang Cerpen tidak dibatasi.
  5. Naskah diwajibkan asli/wajib asli, bukan terjemah, saduran, atau jiplakan ide dari karya lain yang sudah ada. Jika dibutuhkan, peserta siap dihubungi panitia untuk mempertanggungjawabkan keaslian naskah isi dari Cerpen.
  6. Naskah tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), pornografi, dan sadisme serta melanggar per’Undang-Undangan yang berlaku.
  7. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa/buku (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam kompetisi/perlombaan lain (sejenis).
  8. Atas karya yang menang, Panitia Lomba “Indonesia dan Pena” berhak menerbitkannya dalam bentuk buku, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari perbaikan untuk Negeri.
  9. Naskah Cerpen yang diikutsertakan akan menjadi hak panitia dan tidak dapat dikembalikan.
  10. Keputusan dewan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.
  11. Melakukan pendaftaran.
  12. Memetuhi segala peraturan didalam ajang kompetisi ini.
Hadiah :
  1. Juara I : Uang Tunai Rp. 4.200.00,-
  2. Juara II : Uang Tunai Rp. 3.200.000,-
  3. Juara III : Uang Tunai Rp. 2.200.000,-
  4. Dan 7 Cerpen Fovorit akan mendapatkan Uang Tunai Rp. 200.00,-
Pendaftaran :
  1. Mengisi formulir pendaftaran. Download disini
  2. Biaya pendaftaran Rp. 10.000,- untuk 1 Cerpen.
  3. Setiap peserta hanya boleh mengikuti maksimal 2 Karya Cerpen.
  4. Naskah Cerpen dikirimkan melalui surat elektronik (email). Ke : ilmu@mail.com dan CC ke : karya@writeme.com atau ilmumenulis@gmail.com. Dengan Subjek : Indonesia dan Pena – Nama Peserta.
  5. Panitia menyatakan peserta resmi mengikuti kompetisi setelah melakukan pendaftaran yang dilampirkan struk nomor seri bank pengiriman uang pendaftaran.
  6. No Rek Bank Pendaftaran :
  • Bank BNI: 015 473-1105 Atas Nama : Aufa Imiliyana.

7. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 30 Juni 2011.

Ketentuan Khusus :

  1. Pengumuman pemenang akan dimuat di blog www.ilmumahasiswa.co.cc, twitter, facebook page dan dihubungi ke nomor telepon pemenang pada tanggal 10 Juli 2011.
  2. Hadiah akan ditransfer via bank ke rekening peserta.
  3. Pemenang akan mendapat pemberitahuan langsung dari Panitia “Indonesia dan Pena” melalui email karya@writeme.com dan ilmu@mail.com atau ilmumenulis@gmail.com
  4. Semua peserta berhak menjadi anggota Facebook page Ilmu Mahasiswa.
  5. Penerbitan karya pemenang tanggal 17 Agustus 2011
  6. Panitia tidak melayani korespondensi dalam bentuk apa pun berkaitan dengan kompetisi Indonesia dan Pena ini.

*NB: banner lomba menulis cerpennya bisa di download di sumber.

Sumber info lomba: http://www.ilmumahasiswa.co.cc/2011/03/lomba-cerpen-indonesia-dan-pena.html

Lomba Menulis yang Menginspirasi


Tahukah Anda, bahwa Anda dapat membuat keadaan Indonesia menjadi lebih baik..? Sumbangsih Anda diperlukan di sini..

Segera kirimkan pengalaman Anda yang dapat menginspiratif Indonesia, pengalaman cerita positif Anda yang berkenaan dengan nasihat bijak orang tua tercinta.

Hanya dengan karakter positif yang kuat kita dapat menjadi lebih baik.. Dan karena kami yakin bahwa Anda juga dapat menjadi bagian dari gerakan “Character for Indonesia”.

HADIAH
Juara 1: Uang senilai Rp. 1.000.000,-
Juara 2: Uang senilai Rp. 500.000,-
Juara 3: Uang senilai Rp. 300.000,-

KETENTUAN LOMBA

  • Lomba ini terbuka untuk semua kalangan.
  • Artikel yang dilombakan adalah maksimal ditulis 3 halaman kertas A4 dan merupakan asli pengalaman hidup dari penulis.
  • Cantumkan nama, alamat email, serta no. telp. yang dapat kami hubungi di bagian atas artikel.
  • Penulis dapat mengirimkan lebih dari 1 artikel dan dikirimkan melalui email ke heru@elscharacter.com atau herupri@ymail.com
  • Lomba berlangsung dari tanggal 1 Mei 2011 jam 06.00 dan berakhir pada tanggal 31 Juli 2011, jam 24.00 WIB.
  • Semua artikel yang masuk akan menjadi hak bagi pihak ELS sebagai penyelenggara.
    Dan Panitia akan memberikan penilaian se-obyektif mungkin yang akan cenderung kepada bentuk keaslian artikel dan menariknya isi artikel tersebut.
  • Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Sumber:http://www.elscharacter.com/

Minggu, 22 Mei 2011

Lomba Menulis Inspirasi Hari Pendidikan


Deadline: 25 Mei 2011

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan dan peluncuran situs Intisari-online (www.intisari-online.com), dengan ini kami mengumumkan lomba penulisan inspirasi dengan tema “Sekolah Negeri dan Sekolah Swasta, Apa Bedanya?”.
Caranya, tuliskan inspirasi tadi di blog Intisari dengan alamat http://blog.intisari-online.com.

KETENTUAN NASKAH
1. Panjang sekitar 700 kata.
2. Karya tulis belum pernah dimuat di media massa, belum pernah menang pada lomba lain, dan tidak sedang diikutkan pada lomba lain pada rentang waktu diadakannya lomba ini.
3. Tidak menyinggung SARA
4. Naskah diupload ke blog Intisari setelah mengisi form pendaftaran
5. Satu peserta hanya boleh mengikutkan satu judul karya tulis.
6. Memberikan link blog tulisan di status media sosial Intisari (FB: majalahintisari & twitter: @intisarionline
7. Naskah yang memenuhi ketentuan akan ditampilkan di halaman web intisari-online, melalui pengeditan sesuai ketentuan Redakasi Intisari-online.
8. Penilaian berdasarkan naskah yang belum diedit.
9. Batas Akhir pengumpulan Naskah pada tanggal 25 Mei 2011 pukul 24.00.

KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas; penilaian ini dilihat dari segi keaslian hasil karya yang dibuat.
2. Tata bahasa dan kerapian tulisan. penilaian ini berdasarkan atas kesesuaian hasil karya yang dibuat dengan aturan tata bahasa Indonesia
3. Kesesuaian dengan Tema
4. Menggunakan bahasa yang komunikatif.
5. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
6. Coment dari link tulisan terbanyak di media sosial (FB atau twitter) Intisari akan menjadi nilai plus

Hadiah :
1 Pemenang HP Sony Ericsson
2 Pemenang @ Rp 500.000,-

Copyright © 2011. Intisari-online.com

Sabtu, 21 Mei 2011

Cerita Pendek

Oleh Badui U Subhan


Tuan-tuan, ini sekadar cerita. Fiksi! Bukan ramalan, bukan pula berkas skenario untuk peristiwa yang telah terjadi itu. Biar saya jelaskan.

***

Saat itu, naskah ini saya buat di kamar kecil. Maksud saya, kamar yang ukurannya kecil. Cerita ini diselesaikan tanggal 7 September, persis dua hari sebelum peristiwa besar, tragis, dan berdarah itu. Dan perlu tuan-tuan catat baik-baik, rumah saya bukan di Jakarta. Rumah saya di Jatinangor. Tepatnya lagi, rumah itu bukan milik saya, melainkan sebuah rumah dengan dua kamar yang saya sewa bersama dua orang teman. Salah satu kamar, berisi dua orang.

Jam dinding berkeloneng lima kali. Saya terbangun dan langsung menyalakan lampu listrik. Di sisi lain (kasur kami dipisahkan oleh meja komputer, saya di sebelah Barat dan dia di sebelah Timur) teman sekamar saya masih tidur. Kelihatannya nyenyak sekali, damai dalam balutan selimut sarungnya. Mungkin tadi dia habis begadang, soalnya ketika sore sebelumnya dia sempat bilang bahwa nanti malam dia akan menyelesaikan tulisan. Entah tulisan apa yang dia maksud. Saya kira, paling-paling kalau tidak cerpen, ya esai.

Kemudian, setelah sedikit membereskan tempat tidur, saya lekas beranjak menuju kamar mandi untuk ambil wudhu. Saat balik lagi ke kamar, tampak teman saya sudah bangun. Dia duduk bersila di atas kasurnya dengan mata yang belum sepenuhnya melek. Ketika saya mengamparkan sajadah, dia bertanya.

”Han, kamu dengar sesuatu?”
”Sesuatu apa?”
”Bummm....”
”Apa itu?”
”Entahlah, seperti sebuah ledakan dahsyat.”
“Ledakan dahsyat? Di mana? Perasaan, semalam tidak ada apa-apa!”
“Iya, ledakan yang sangat dahsyat. Sepertinya di tempat yang sangat jauh, bukan di sekitar sini.”
”Mimpi buruk lagi ya?”
“Tidak, tidak. Malah tadi aku mimpi bertemu pacar lama.”
”Dasar! Sudah, sana, cepat ambil wudhu kalau mau berjamaah.”
“Kamu duluan saja, aku masih heran dengan suara itu.”

Dia membaringkan tubuhnya lagi di kasur busa yang agak tipis itu. Sepasang matanya menerawang ke langit-langit seperti sedang mencari-cari jawaban pasti. Saya cuma tersenyum. Ah, paling-paling tadi dia mimpi buruk lagi, pikir saya.
Beberapa detik sebelum saya melakukan takbiratul ihram, terdengar suara lirih.

”Mungkin ini firasat buruk, Han.”
”Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” kata saya.
”Ya, mudah-mudahan...”

Rampung shalat, saya segera menengok ke belakang. Lha, teman saya sudah tidak ada. Mungkin sedang ke kamar mandi, pikir saya. Lalu saya putuskan untuk berdoa dan membaca beberapa ayat Al Qur’an. Usai itu saya nyalakan komputer. Saya ingin menulis. Menulis apapun yang nanti muncul dalam pikiran jika sudah berada di depan komputer, seperti saran Pak Hernowo. Dan, memang, setelah tertegun agak lama, saya dapat inspirasi. Ya, saya menulis catatan harian. Meski tersendat-sendat, dapat juga tiga halaman. Spasi satu setengah.

Usai itu, tiba-tiba saya teringat pada sebuah cerpen saya yang belum sempat saya edit. Saya klik File, klik Open, klik My Documents, klik folder Aing, klik folder Cerpen. Lha, mana file saya yang bertajuk Cerita Pendek.doc itu? Barangkali terlewat atau kurang awas, saya periksa lagi satu persatu file dalam folder itu dengan teliti. Alhasil, nihil. Raib. Alamak, kenapa bisa hilang, padahal saya yakin betul kalau waktu itu saya simpan di folder Cerpen, bukan di folder Puisi, Artikel atau Cathar.

Karena takut benar-benar hilang, saya coba cek Recycle Bin. Siapa tahu terbuang tanpa sengaja, pikir saya. Betapa kecewa, sebab satu file buangan pun tidak ada yang nampak. Aduh, ke mana hilangnya cerpen itu, geram saya berkali-kali. Saya benar-benar tidak habis pikir. Kok, bisa hilang? Apa kena virus? Ah, tidak mungkin. Ya, mana mungkin! Kalau file itu kena virus kenapa yang lain tidak?

Dan, teman saya, ke mana pula? Kok dia tak ada balik lagi ke kamar? Tapi waktu itu saya tidak terlalu merisaukannya, karena saya pikir dia sudah bukan anak kecil lagi. Siapa tahu dia ada urusan mendadak. Jadi, mungkin dia pergi buru-buru dan tak sempat pamitan dulu dengan saya. Yang saya risaukan adalah cerpen saya. Kok, tiba-tiba hilang? Ke mana raibnya? Sejujurnya, saya tidak habis pikir dengan hilangnya file itu. Setelah dicari-cari di folder lain juga tidak ada hasilnya. Saya kecewa berat.

Bagaimana tidak kecewa? Bayangkan, untuk bisa menuliskan cerpen sembilan halaman itu, bagi saya, cukup berdarah-darah. Sehari sebelum kehilangan itu, saya harus merelakan waktu dan kesempatan berharga lainnya terlewat sia-sia. Hanya demi cerpen yang satu itu!

Saat cerpen itu baru saya tuliskan dua halaman, seorang teman mengirim SMS: gds tabularasa itu skrg sdh sampe di ccf. serius, kawan! Kenapa gadis itu ada di CCF, saya tak tahu pasti. Mungkin ada diskusi novelnya di sana. Terus terang saja, saya memang tertarik pada penulis novel itu. Alasan saya sederhana, foto yang terpampang di jilid belakang novelnya itu cantik sekali.

Tapi, setelah saya pikir-pikir isi SMS dari teman itu, kesimpulannya: kagok. Tanggung. Sebab biasanya kalau saya sudah terlanjur asik menulis, kemudian ditinggalkan, tulisan itu dijamin nantinya tidak akan selesai. Sedangkan sedari mula saya sudah berpikir dan yakin bahwa cerpen itu pasti akan dahsyat. Jadi, mungkin lain kali saja saya berkenalan dengan gadis Tabularasa itu, harap saya.

Dan, kalau tidak salah, ketika cerpen itu sudah sampai tujuh halaman, saya dapat SMS lagi dari seorang teman yang lain: knp td g dtg wwncr? Astaga, saya benar-benar lupa! Harusnya sedari pagi saya sudah berangkat ke Bandung untuk wawancara kerja di kantor sebuah koran lokal. Naas betul nasib ini, pikir saya.

***

Demikianlah. Saya merasa sangat kehilangan dengan cerpen ini. Mungkin tuan-tuan pikir saya berlebihan. Tapi, terserahlah. Yang jelas, cerpen ini bagi saya amat berharga. Rencananya, kalau sudah beres diedit akan saya ikutkan pada sayembara menulis cerpen tingkat nasional yang digagas oleh sebuah jurnal sastra. Tidak munafik, saya memang tergiur dengan hadiah yang dijanjikannya. Puluhan juta! Lumayan dapat juara harapan satu juga, bisa membiayai hidup saya selama tiga bulan di Jatinangor. Tapi dasar nasib sedang naas, bukannya bisa melanjutkan koreksi naskah itu ke tahap pengeditan yang lebih serius, yang terjadi malah raib. Ya, termasuk raibnya impian saya (yang setidaknya) jadi juara harapan satu!

Jadi, saya kira, ini hanya sebuah kebetulan. Coba pikir baik-baik, saya ini bukan siapa-siapa. Saya hanya mengolah kalimat dan benar-benar bermain dengan imajinasi saja. Saya akui, naskah ini memang hasil rekayasa saya. Karya saya. Tapi bukan dalam artian saya orang serba tahu atau luar biasa, apalagi kemudian dicap sebagai bagian dari dalang peristiwa itu. Naudzubillah! Sedikit pun, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa dan orang-orang yang telah membuat peristiwa mengerikan itu.

Saya berharap tuan-tuan cepat menarik tuduhan tidak berdasar itu pada saya! Ya, memang, dulu saya pernah dan boleh dibilang sering melewati jalur itu. Sebab jalan yang lebih cepat menuju rumah kakak saya, ya lewat jalan itu. Dan perlu saya jelaskan, selama tahun ini, kalau tidak salah, saya baru tiga kali berkunjung lagi ke rumah kakak saya. Terakhir kali, tanggal 2 September lalu. Lebih spesifik lagi, dan sebagai penguat keterangan saya, dalam perjalanan itu saya tidak bawa apa-apa. Malah, saya cuma pakai kaos, celana yang selutut, dan sandal gunung ini. Waktu itu saya tidak membawa tas pinggang seperti biasanya, sebab dipinjam teman yang sedang mendaki Rinjani.

Coba pikirkan, apa masuk akal kalau saya yang membawa naskah ini? Bagaimana teorinya? Lucu sekali kalau ada yang mengiyakan! Pasti sekolahnya tidak tamat SD!

Baiklah, saya tidak ingin membantah kalau tuan-tuan memaksakan diri melihat atau membuat kronologis peristiwa itu macam demikian. Ya, memang hampir atau malah mirip sekali dengan cerita yang saya buat ini. Jenis dan cat mobil yang digunakan itu memang sama. Tanggalnya tepat dan letak ledakannya juga memang persis di depan gerbang. Soal korban yang meninggal, saya memang tidak menuliskan jumlahnya secara tepat. Yang jelas tertera pada halaman enam dalam cerita ini, tuan-tuan bisa baca lagi: ...tak begitu banyak dibanding peristiwa sebelumnya, namun tetap dan sungguh mengerikan.

Kenapa naskah cerita ini ada di dekat lokasi kejadian, saya sungguh tidak mengerti sedikit pun. Seperti yang sudah saya ungkapkan tadi, saya sudah kehilangan cerpen ini sehari sebelum peristiwa itu terjadi. Juga bertepatan dengan ‘kaburnya’ teman sekamar saya. Ya, ya, empat data yang termaktub dalam cerita ini memang begitu persis. Saya tidak ingin banyak mengelak. Tapi, sekali lagi, saya sungguh tidak habis pikir.

Meski demikian, sedikit tabir agaknya mungkin bisa dikuak. Tapi, agar tidak salah paham, perlu saya tekankan satu hal, ini hanya dugaan belaka! Bukan kepastian! Seperti yang tuan-tuan juga tahu, di lokasi peristiwa itu disinyalir ada salah satu korban yang namanya persis dengan nama teman sekamar saya. Sayangnya, jasadnya sudah tidak bisa lagi dikenali. Jadi, dugaan sementara saya, kalau pun benar dia berangkat ke Jakarta, satu-satunya kemungkinan yang masuk akal, meskipun ini terkesan dipaksakan, adalah naskah cerpen ini dia ambil diam-diam dari komputer saya. Soal kepentingannya apa dan kapan mengambilnya, saya tidak bisa memastikan.

Sekali lagi, saya tidak berani bilang pasti, karena sebelum-sebelumnya dia tidak pernah bercerita kalau dia akan ke Jakarta. Dia hanya pernah bilang kalau dia ada orderan besar pada tanggal 9 September. Apa jenis orderan dan di mana lokasinya, dia tidak menjelaskan. Dan hingga hari kemarin dia belum lagi terlihat kembali pulang ke kontrakan kami. Saya sempat mencoba menelepon ke rumahnya, keluarganya bilang dia tidak ada pulang.

***

Tuan-tuan, lepas dari itu, saya sungguh tidak bisa terima perlakuan macam ini. Saya telah disekap di ruangan sempit dan pengap ini tanpa proses pengadilan. Jauh dari mana-mana, jauh dari siapa-siapa! Ini sangat menyiksa batin saya. Ditambah lagi, anak buah tuan-tuan telah berani menampar, menendang, mengencingi, dan menyetrum saya semena-mena. Saya pantas tidak terima. Saya pantas mengajukan gugatan ini! Dan saya yakin, tuan-tuan pasti belum atau bahkan tidak akan pernah memberitahukan keberadaan saya di sini kepada keluarga saya, sampai waktu yang tidak bisa atau tidak akan ditentukan, bukan?!

Memalukan! Mengapa menculik orang menjadi sebuah keahlian picisan dari korps tuan-tuan yang terhormat? Dan, anehnya, justru tuan-tuan pelihara, tuan-tuan biasakan. Satu hal lagi, tuan-tuan suka membuat cerita fiksi juga, bukan? Sayangnya, cerita fiksi tuan-tuan bukan untuk kepentingan yang baik. Tuan-tuan hanya suka membuat kambing hitam! Kalau begitu, apa bedanya tuan-tuan dengan para bandit? Tuan-tuan tanpa meminta terlebih dahulu, secara baik-baik, keterangan yang sejelas-jelasnya tentang siapa saya yang sebenarnya. Saya tidak terima diseret ke tempat terkutuk ini.

Seharusnya tuan-tuan malu pada diri sendiri dan para pelaku teror yang sebenarnya. Sebab, secara tidak langsung, tuan-tuan telah mengikrarkan diri kepada semua orang sebagai pecundang. Tidakkah itu cukup membuktikan kalau ternyata korps tuan-tuan sebenarnya bobrok?

Jangan-jangan, tuan-tuan yang merekayasa semua peristiwa konyol ini?!



Jatinangor, 2004



Catatan:
1. Takbiratul Ihram: gerakan kedua belah tangan untuk bersidekap saat memulai shalat sambil mengucapkan lafadz Allaahu Akbar.
2. Hernowo: beliau adalah penulis beberapa buku seputar quantum learning, salah satu bukunya ada yang berisi tentang kiat-kiat sukses menjadi penulis. Saya lupa judul buku tersebut.
3. CCF singkatan dari Centre of Culture Francaise. Selain sering digunakan untuk pementasan teater, tempat ini kerap pula dipakai untuk berbagai acara, terutama acara-acara yang berkaitan dengan kesusatraan.
4. Tabularasa adalah judul sebuah novel yang menjadi pemenang ketiga sayembara novel yang diadakah oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2004. Penulisnya, seorang perempuan.

Senin, 06 Desember 2010

Lelucon di Balik Peristiwa Politik

Oleh Badui U. Subhan

















Judul : Komedikus Erektus; Dagelan Republik Kacau Balau
Penulis : Bambang Haryanto
Penerbit : Imania, Depok
Cetakan : Pertama - November 2010
Tebal : xxxii+205 halaman
Format : 13 x 20,5 cm – Soft Cover
ISBN : 978-602-96413-7-0


Kita kerap mendengar ungkapan bahwa tertawa itu baik atau sehat. Namun realitas yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, langsung maupun tidak, seperti ramai-ramai sedang mengingkari ungkapan tersebut. Di mana-mana, banyak orang lebih suka marah, menghardik, mengeluh, dan mengumpat tinimbang memberi solusi atau sekadar merespons masalahnya dengan seulas senyum.

Keadaan tersebut mungkin memiliki logikanya sendiri. Jika tak lucu maka tak ada tawa. Ya, secara kasat mata dan pikiran awam memang banyak peristiwa yang tak sedap untuk dipandang dan dirasa, sehingga sulit menimbulkan tawa. Misal, bagaimana bisa tertawa kala institusi kepolisian dan penegak hukum lainnya masih gemar korupsi, perseteruan yang kian absurd antara “cicak” dan “buaya”, dahsyatnya ancaman flu burung dan flu babi, berlarut-larutnya kasus Bank Century, para anggota DPR yang masih kekanak-kanakan, pilpres yang tak pernah luber dan judil, petaka abadi lumpur Lapindo, dan masih banyak lagi. Kita mungkin diam-diam pula mengumpat dalam hati, sungguh sial hidup di sini!

Bagi masyarakat awam dan cenderung emosional, kebanyakan peristiwa yang telah disinggung di atas mungkin tak bisa dipahami sebagai kelucuan, terlebih dibuat lelucon. Apalagi jika narasi informasi yang diterimanya lebih bergaya ilmiah dan serius. Sebaliknya, dan ini tak banyak, bagi orang-orang yang memiliki sense of humor tinggi, peristiwa-peristiwa apapun yang mengiris hati akan selalu ditemukan celah komedinya. Lelucon ironis. Salah seorang macam ini ialah Bambang Haryanto, sang pencetus Hari Suporter Nasional, yang kembali menorehkan kecerdasan ‘analisa’ komedinya terhadap beberapa peristiwa politik dalam sebuah buku bertajuk Komedikus Erektus. Buku pertamanya Ledakan Tawa dari Afrika sampai dengan Rusia (USA, 1987), buku keduanya Ledakan Tawa dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Buku Komedikus Erektus menghimpun beberapa tulisan lelucon politik dengan cerdas, lugas, lucu, sekaligus membuat gemas pembaca. Kecerdasan yang dimaksud bukan karena gaya tulisannya mirip dengan cara analisa pada karya-karya ilmiah yang kerap berujung pada kesimpulan kaku. Kecerdasan ini lebih terasa karena kepandaian sang penulis dalam menemukan lelucon-lelucon ironis di balik peristiwa-peristiwa politik nyata sehari-hari, yang anehnya kerap dianggap sebagai tindakan sakral, mulia, dan heroik bagi penggagas dan pendukung fanatiknya.

Kecerdasan lelucon-lelucon itu diperkuat pula oleh gaya penulisannya yang lugas dan tak terjebak pada stereotip komedi ‘kacangan’. Pun terasa aktual di setiap ruang dan waktu. Alhasil, lelucon-lelucon yang ditampilkan tak sekadar membuat pembaca tersenyum simpul atau bahkan tergelak, melainkan mampu mengusik sudut pandang berpikir kita (sang pembaca) yang masih terbiasa sempit atau mapan (jika tak ingin dikatakan bebal). Salah satu contoh dapat dibaca pada Bab VI dengan subjudul “SBY: 9 Desember 2009 dan Singa” (hal: 47-48).

Tanggal tersebut mengacu pada gerakan moral peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia. Saat itu Andi Mallarangeng, orang dekat Presiden SBY, meluncurkan ‘mantra’ tentang ancaman penumpang gelap yang hendak memicu huru-hara di negeri ini. ‘Mantra’ itu tentu memiliki tendensi agar publik lebih percaya kepada kekuasaan dan kepemimpinan SBY yang baru terpilih lagi sebagai presiden. Ironisnya, menurut ‘analisa’ komedi Bambang, kata-kata ‘mantra’ Mallarangeng yang mestinya bernilai tinggi itu akhirnya kempis tak bertuah (tak seperti mantra-mantra Soeharto yang selalu bertuah karena sukses mencap komunis kepada setiap lawan politiknya) mengingat masyarakat terlanjur dikecewakan oleh pernyataan-pernyataan SBY sebelumnya yang nihil bukti.

Masyarakat masih ingat, pada saat bom Kuningan meledak (17/7/2009), SBY buru-buru tampil dengan seting dramatik dan menyatakan bahwa gerakan tersebut untuk menggajal dirinya dilantik jadi presiden. Nyatanya, peristiwa tersebut tak ada kaitan sama sekali. Ia juga meyakinkan bahwa akan ada gerakan massa yang hendak menduduki kantor KPU. Faktanya, tak pula berbukti! Satu-satunya bukti yang dapat dipercaya adalah semua itu hanya dagelan politik!

Isi macam demikian menghiasi semua tulisan dalam buku yang terbagi dalam 28 bab ini. Setiap bab-nya menyajikan ‘analisa’ serta lelucon yang segar dan variatif. Tak begitu jelas, memang, alasan pembagian atau dasar perbedaan tema dalam setiap bab-nya, namun pembaca tak perlu khawatir akan terusik kenikmatannya pada lelucon-lelucon politik yang terhimpun pada buku yang dipuji oleh berbagai tokoh yang masih “waras” macam Jaya Suprana, Wimar Witoelar, Effendi Ghazali, dan Budiarto Shambazy ini.

Kesegaran lainnya, tak semua bahan lelucon yang diracik Bambang ini lahir dari peristiwa politik di dalam negeri. Di samping itu, lelucon-lelucon politik dalam negerinya juga dikemas baik oleh Bambang dengan ‘metode’ komparasi yang apik terhadap peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh populer di luar negeri baik yang murni beraroma politik maupun tidak, seperti tertuang pada tulisan bertajuk “Bir Obama, Polisi Korup, dan Ketegasan SBY Kita”, “Naisbitt and It’s A Comedy, Stupid!”, “Pilpres 2009: The Good, The Bad, and The Ugly”, “Lagu Michael Jackson dan Inspirasi Pilpres 2009”, dan “General Election 2009’s Guffaw”. Masih banyak yang lainnya.

Lelucon-lelucon yang diracik oleh lelaki yang pernah gagal ikut lomba Audisi Pelawak TPI-4 ini memang memiliki kekhasan tersendiri, khususnya di ranah komedi Indonesia. Pada semua tulisan Bambang ini tak akan ditemukan sedikit pun lelucon umum yang kerap (kecanduan) mengeksploitasi ‘laku’ kekerasan atau cemoohan fisik tokoh-tokohnya seperti pada lawakan-lawakan yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta kita. Isi tulisan dalam buku ini pun tak lahir dari kekosongan budaya. Racikan lelucon Bambang betul-betul terinspirasi dari peristiwa politik yang faktual dan diksi bahasanya tak lantas jatuh pada narasi sarkastik seperti yang kerap ‘muncrat’ dari mulut para komentator politik pada umumnya.

Kiranya, masyarakat yang terlanjur ‘alergi’ pada wacana politik pun, ketika membaca buku ini, akan dapat menikmatinya dengan tetap sentosa. Nilai plus lainnya, pada setiap tulisan disertakan pula ilustrasi kartun yang dapat memudahkan pembaca mengikat inti pesan yang hendak disampaikan sang penulis.

Pada akhirnya, buku ini tak hanya mengungkap lelucon-lelucon yang (kerap samar) hadir di balik setiap peristiwa politik, melainkan pula menguji dan menambah sense of critic setiap pembacanya agar selalu ‘waspada’ terhadap wacana-wacana indah, manis, dan tak jarang bombastis yang kerap dilontarkan, dipajang, atau ditayangkan para ‘politikus’ (apapun level dan sebutannya) melalui beragam media yang ada.

Menjaga kesadaran atau kewarasan diri tak harus selalu didapat dengan cara mengkonsumsi bacaan-bacaan yang analitis-ilmiah. Seperti kata Gus Dur, daya humor dapat membuat hati bahagia dan menyehatkan pikiran.*

Kamis, 18 November 2010

KOMPETISI MENULIS ESAI: Selamat Datang

KOMPETISI MENULIS ESAI: Selamat Datang: "Anak Muda & RekonsiliasiMenyembuhkan luka sejarah adalah kerja besar. Bukan sekadar kerja satu dua tahun, tetapi mungkin puluhan tahun. Beta..."

Kamis, 07 Oktober 2010

Guru Inspiratif

Oleh: Rhenald Kasali

Dalam hidup ini kita mengenal 2 jenis guru: Guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standard (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99% seluruh guru yang saya temui.

Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaharu yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Dunia memerlukan dua-duanya seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan sangat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

Freedom Writers
Karya-karya pembaharuan, baik temuan-temuan spektakuler keilmuan, produk-produk komersial, maupun gerakan-gerakan sosial akan tampak di masyarakat. Tetapi tak dapat dipungkiri semua itu berawal dari bangku sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat dalam diri Erin Gruwell, guru perempuan yang ditempatkan di sebuah kelas “bodoh”, yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan “honors students”, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.

Erin memulainya dengan segala kesulitan. Selain katanya “bodoh” dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, terlibat kekerasan antargeng, saling melecehkan, tempramen, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh.

Kelas itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak super nakal tak boleh disekolahkan bersama-sama distinguised scholars. Tetapi Erin tak putus asa, Ia membuat “kurikulum”-nya sendiri. Kurikulum itu bukan berisi ajaran-ajaran pengetahuan biasa (hard skill), melainkan pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai dan membagi mereka ke dalam dua kelompok di kiri dan di kanan. Kalau menjawab “ya” mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng.

Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama was-was, hidup penuh ancaman, curiga pada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relax terhadap guru dan teman-temannya dan sepakat saling memperbaharui hubungan. Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi, sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Karya-karya mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers (FW). Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku-pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film FW yang dibintangi Hilary Swank.

Keluar dari Belenggu
Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar saja, melainkan juga pada pendidikan tinggi. Namun entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita semakin mengisolasi dirinya dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu oleh kurikulum.

Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan (meskipun pembacanya belum tentu memadai), dan rajin mengisi absen. Dengarlah protes Kazuo Murakami., Ph.D, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke Amerika saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang yang membangun benteng hirarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak perduli dengan apa yang telah terjadi di luar.

Meski belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru inspiratif ini sangat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

Ada 2 masalah yang perlu kita renungkan disini. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student’s ability). Ia hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Sedangkan guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, melainkan ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat “Aku ingin jadi seperti dia” atau “Aku bisa lebih hebat lagi”.

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons tekanan-tekanan eksternal, dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Setiap upaya yang dilakukan guru-guru kreatif untuk meremajakannya dianggap sebagai ancaman, bahkan dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.

Saya masih ingat betul, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang sangat saya kenal. Pada tahun 2005 Ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya dalam bidang pendidikan. Penghargaan serupa dalam masing-masing bidang saat itu juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Tapi tak banyak yang tahu hari-hari itu Ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar “kurikulum”. Kesalahannya adalah telah memperbaharui metode pengajaran agar murid-muridnya menjadi lebih artikulatif. Muridnya senang belum berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya namanya dicoret dari daftar pengajar. Karir gurubesarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N. Sheth, begitu orang-orang lama menyangkal realita baru, maka mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Prilaku internal itu adalah belenggu innertia, yang disebutnya sebagai destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimilikinya.

Sudah saatnya benteng innertia seperti ini dihapuskan dengan “memanusiawikan” kurikulum dengan memberi ruang yang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.


Sumber: www.duniaguru.com diambil dari Kompas.com