Kamis, 07 Oktober 2010

Guru Inspiratif

Oleh: Rhenald Kasali

Dalam hidup ini kita mengenal 2 jenis guru: Guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standard (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99% seluruh guru yang saya temui.

Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaharu yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Dunia memerlukan dua-duanya seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan sangat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

Freedom Writers
Karya-karya pembaharuan, baik temuan-temuan spektakuler keilmuan, produk-produk komersial, maupun gerakan-gerakan sosial akan tampak di masyarakat. Tetapi tak dapat dipungkiri semua itu berawal dari bangku sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat dalam diri Erin Gruwell, guru perempuan yang ditempatkan di sebuah kelas “bodoh”, yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan “honors students”, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.

Erin memulainya dengan segala kesulitan. Selain katanya “bodoh” dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, terlibat kekerasan antargeng, saling melecehkan, tempramen, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh.

Kelas itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak super nakal tak boleh disekolahkan bersama-sama distinguised scholars. Tetapi Erin tak putus asa, Ia membuat “kurikulum”-nya sendiri. Kurikulum itu bukan berisi ajaran-ajaran pengetahuan biasa (hard skill), melainkan pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai dan membagi mereka ke dalam dua kelompok di kiri dan di kanan. Kalau menjawab “ya” mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng.

Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama was-was, hidup penuh ancaman, curiga pada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relax terhadap guru dan teman-temannya dan sepakat saling memperbaharui hubungan. Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi, sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Karya-karya mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers (FW). Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku-pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film FW yang dibintangi Hilary Swank.

Keluar dari Belenggu
Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar saja, melainkan juga pada pendidikan tinggi. Namun entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita semakin mengisolasi dirinya dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu oleh kurikulum.

Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan (meskipun pembacanya belum tentu memadai), dan rajin mengisi absen. Dengarlah protes Kazuo Murakami., Ph.D, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke Amerika saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang yang membangun benteng hirarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak perduli dengan apa yang telah terjadi di luar.

Meski belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru inspiratif ini sangat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

Ada 2 masalah yang perlu kita renungkan disini. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student’s ability). Ia hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Sedangkan guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, melainkan ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat “Aku ingin jadi seperti dia” atau “Aku bisa lebih hebat lagi”.

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons tekanan-tekanan eksternal, dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Setiap upaya yang dilakukan guru-guru kreatif untuk meremajakannya dianggap sebagai ancaman, bahkan dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.

Saya masih ingat betul, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang sangat saya kenal. Pada tahun 2005 Ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya dalam bidang pendidikan. Penghargaan serupa dalam masing-masing bidang saat itu juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Tapi tak banyak yang tahu hari-hari itu Ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar “kurikulum”. Kesalahannya adalah telah memperbaharui metode pengajaran agar murid-muridnya menjadi lebih artikulatif. Muridnya senang belum berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya namanya dicoret dari daftar pengajar. Karir gurubesarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N. Sheth, begitu orang-orang lama menyangkal realita baru, maka mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Prilaku internal itu adalah belenggu innertia, yang disebutnya sebagai destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimilikinya.

Sudah saatnya benteng innertia seperti ini dihapuskan dengan “memanusiawikan” kurikulum dengan memberi ruang yang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.


Sumber: www.duniaguru.com diambil dari Kompas.com