Sabtu, 21 Mei 2011

Cerita Pendek

Oleh Badui U Subhan


Tuan-tuan, ini sekadar cerita. Fiksi! Bukan ramalan, bukan pula berkas skenario untuk peristiwa yang telah terjadi itu. Biar saya jelaskan.

***

Saat itu, naskah ini saya buat di kamar kecil. Maksud saya, kamar yang ukurannya kecil. Cerita ini diselesaikan tanggal 7 September, persis dua hari sebelum peristiwa besar, tragis, dan berdarah itu. Dan perlu tuan-tuan catat baik-baik, rumah saya bukan di Jakarta. Rumah saya di Jatinangor. Tepatnya lagi, rumah itu bukan milik saya, melainkan sebuah rumah dengan dua kamar yang saya sewa bersama dua orang teman. Salah satu kamar, berisi dua orang.

Jam dinding berkeloneng lima kali. Saya terbangun dan langsung menyalakan lampu listrik. Di sisi lain (kasur kami dipisahkan oleh meja komputer, saya di sebelah Barat dan dia di sebelah Timur) teman sekamar saya masih tidur. Kelihatannya nyenyak sekali, damai dalam balutan selimut sarungnya. Mungkin tadi dia habis begadang, soalnya ketika sore sebelumnya dia sempat bilang bahwa nanti malam dia akan menyelesaikan tulisan. Entah tulisan apa yang dia maksud. Saya kira, paling-paling kalau tidak cerpen, ya esai.

Kemudian, setelah sedikit membereskan tempat tidur, saya lekas beranjak menuju kamar mandi untuk ambil wudhu. Saat balik lagi ke kamar, tampak teman saya sudah bangun. Dia duduk bersila di atas kasurnya dengan mata yang belum sepenuhnya melek. Ketika saya mengamparkan sajadah, dia bertanya.

”Han, kamu dengar sesuatu?”
”Sesuatu apa?”
”Bummm....”
”Apa itu?”
”Entahlah, seperti sebuah ledakan dahsyat.”
“Ledakan dahsyat? Di mana? Perasaan, semalam tidak ada apa-apa!”
“Iya, ledakan yang sangat dahsyat. Sepertinya di tempat yang sangat jauh, bukan di sekitar sini.”
”Mimpi buruk lagi ya?”
“Tidak, tidak. Malah tadi aku mimpi bertemu pacar lama.”
”Dasar! Sudah, sana, cepat ambil wudhu kalau mau berjamaah.”
“Kamu duluan saja, aku masih heran dengan suara itu.”

Dia membaringkan tubuhnya lagi di kasur busa yang agak tipis itu. Sepasang matanya menerawang ke langit-langit seperti sedang mencari-cari jawaban pasti. Saya cuma tersenyum. Ah, paling-paling tadi dia mimpi buruk lagi, pikir saya.
Beberapa detik sebelum saya melakukan takbiratul ihram, terdengar suara lirih.

”Mungkin ini firasat buruk, Han.”
”Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” kata saya.
”Ya, mudah-mudahan...”

Rampung shalat, saya segera menengok ke belakang. Lha, teman saya sudah tidak ada. Mungkin sedang ke kamar mandi, pikir saya. Lalu saya putuskan untuk berdoa dan membaca beberapa ayat Al Qur’an. Usai itu saya nyalakan komputer. Saya ingin menulis. Menulis apapun yang nanti muncul dalam pikiran jika sudah berada di depan komputer, seperti saran Pak Hernowo. Dan, memang, setelah tertegun agak lama, saya dapat inspirasi. Ya, saya menulis catatan harian. Meski tersendat-sendat, dapat juga tiga halaman. Spasi satu setengah.

Usai itu, tiba-tiba saya teringat pada sebuah cerpen saya yang belum sempat saya edit. Saya klik File, klik Open, klik My Documents, klik folder Aing, klik folder Cerpen. Lha, mana file saya yang bertajuk Cerita Pendek.doc itu? Barangkali terlewat atau kurang awas, saya periksa lagi satu persatu file dalam folder itu dengan teliti. Alhasil, nihil. Raib. Alamak, kenapa bisa hilang, padahal saya yakin betul kalau waktu itu saya simpan di folder Cerpen, bukan di folder Puisi, Artikel atau Cathar.

Karena takut benar-benar hilang, saya coba cek Recycle Bin. Siapa tahu terbuang tanpa sengaja, pikir saya. Betapa kecewa, sebab satu file buangan pun tidak ada yang nampak. Aduh, ke mana hilangnya cerpen itu, geram saya berkali-kali. Saya benar-benar tidak habis pikir. Kok, bisa hilang? Apa kena virus? Ah, tidak mungkin. Ya, mana mungkin! Kalau file itu kena virus kenapa yang lain tidak?

Dan, teman saya, ke mana pula? Kok dia tak ada balik lagi ke kamar? Tapi waktu itu saya tidak terlalu merisaukannya, karena saya pikir dia sudah bukan anak kecil lagi. Siapa tahu dia ada urusan mendadak. Jadi, mungkin dia pergi buru-buru dan tak sempat pamitan dulu dengan saya. Yang saya risaukan adalah cerpen saya. Kok, tiba-tiba hilang? Ke mana raibnya? Sejujurnya, saya tidak habis pikir dengan hilangnya file itu. Setelah dicari-cari di folder lain juga tidak ada hasilnya. Saya kecewa berat.

Bagaimana tidak kecewa? Bayangkan, untuk bisa menuliskan cerpen sembilan halaman itu, bagi saya, cukup berdarah-darah. Sehari sebelum kehilangan itu, saya harus merelakan waktu dan kesempatan berharga lainnya terlewat sia-sia. Hanya demi cerpen yang satu itu!

Saat cerpen itu baru saya tuliskan dua halaman, seorang teman mengirim SMS: gds tabularasa itu skrg sdh sampe di ccf. serius, kawan! Kenapa gadis itu ada di CCF, saya tak tahu pasti. Mungkin ada diskusi novelnya di sana. Terus terang saja, saya memang tertarik pada penulis novel itu. Alasan saya sederhana, foto yang terpampang di jilid belakang novelnya itu cantik sekali.

Tapi, setelah saya pikir-pikir isi SMS dari teman itu, kesimpulannya: kagok. Tanggung. Sebab biasanya kalau saya sudah terlanjur asik menulis, kemudian ditinggalkan, tulisan itu dijamin nantinya tidak akan selesai. Sedangkan sedari mula saya sudah berpikir dan yakin bahwa cerpen itu pasti akan dahsyat. Jadi, mungkin lain kali saja saya berkenalan dengan gadis Tabularasa itu, harap saya.

Dan, kalau tidak salah, ketika cerpen itu sudah sampai tujuh halaman, saya dapat SMS lagi dari seorang teman yang lain: knp td g dtg wwncr? Astaga, saya benar-benar lupa! Harusnya sedari pagi saya sudah berangkat ke Bandung untuk wawancara kerja di kantor sebuah koran lokal. Naas betul nasib ini, pikir saya.

***

Demikianlah. Saya merasa sangat kehilangan dengan cerpen ini. Mungkin tuan-tuan pikir saya berlebihan. Tapi, terserahlah. Yang jelas, cerpen ini bagi saya amat berharga. Rencananya, kalau sudah beres diedit akan saya ikutkan pada sayembara menulis cerpen tingkat nasional yang digagas oleh sebuah jurnal sastra. Tidak munafik, saya memang tergiur dengan hadiah yang dijanjikannya. Puluhan juta! Lumayan dapat juara harapan satu juga, bisa membiayai hidup saya selama tiga bulan di Jatinangor. Tapi dasar nasib sedang naas, bukannya bisa melanjutkan koreksi naskah itu ke tahap pengeditan yang lebih serius, yang terjadi malah raib. Ya, termasuk raibnya impian saya (yang setidaknya) jadi juara harapan satu!

Jadi, saya kira, ini hanya sebuah kebetulan. Coba pikir baik-baik, saya ini bukan siapa-siapa. Saya hanya mengolah kalimat dan benar-benar bermain dengan imajinasi saja. Saya akui, naskah ini memang hasil rekayasa saya. Karya saya. Tapi bukan dalam artian saya orang serba tahu atau luar biasa, apalagi kemudian dicap sebagai bagian dari dalang peristiwa itu. Naudzubillah! Sedikit pun, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa dan orang-orang yang telah membuat peristiwa mengerikan itu.

Saya berharap tuan-tuan cepat menarik tuduhan tidak berdasar itu pada saya! Ya, memang, dulu saya pernah dan boleh dibilang sering melewati jalur itu. Sebab jalan yang lebih cepat menuju rumah kakak saya, ya lewat jalan itu. Dan perlu saya jelaskan, selama tahun ini, kalau tidak salah, saya baru tiga kali berkunjung lagi ke rumah kakak saya. Terakhir kali, tanggal 2 September lalu. Lebih spesifik lagi, dan sebagai penguat keterangan saya, dalam perjalanan itu saya tidak bawa apa-apa. Malah, saya cuma pakai kaos, celana yang selutut, dan sandal gunung ini. Waktu itu saya tidak membawa tas pinggang seperti biasanya, sebab dipinjam teman yang sedang mendaki Rinjani.

Coba pikirkan, apa masuk akal kalau saya yang membawa naskah ini? Bagaimana teorinya? Lucu sekali kalau ada yang mengiyakan! Pasti sekolahnya tidak tamat SD!

Baiklah, saya tidak ingin membantah kalau tuan-tuan memaksakan diri melihat atau membuat kronologis peristiwa itu macam demikian. Ya, memang hampir atau malah mirip sekali dengan cerita yang saya buat ini. Jenis dan cat mobil yang digunakan itu memang sama. Tanggalnya tepat dan letak ledakannya juga memang persis di depan gerbang. Soal korban yang meninggal, saya memang tidak menuliskan jumlahnya secara tepat. Yang jelas tertera pada halaman enam dalam cerita ini, tuan-tuan bisa baca lagi: ...tak begitu banyak dibanding peristiwa sebelumnya, namun tetap dan sungguh mengerikan.

Kenapa naskah cerita ini ada di dekat lokasi kejadian, saya sungguh tidak mengerti sedikit pun. Seperti yang sudah saya ungkapkan tadi, saya sudah kehilangan cerpen ini sehari sebelum peristiwa itu terjadi. Juga bertepatan dengan ‘kaburnya’ teman sekamar saya. Ya, ya, empat data yang termaktub dalam cerita ini memang begitu persis. Saya tidak ingin banyak mengelak. Tapi, sekali lagi, saya sungguh tidak habis pikir.

Meski demikian, sedikit tabir agaknya mungkin bisa dikuak. Tapi, agar tidak salah paham, perlu saya tekankan satu hal, ini hanya dugaan belaka! Bukan kepastian! Seperti yang tuan-tuan juga tahu, di lokasi peristiwa itu disinyalir ada salah satu korban yang namanya persis dengan nama teman sekamar saya. Sayangnya, jasadnya sudah tidak bisa lagi dikenali. Jadi, dugaan sementara saya, kalau pun benar dia berangkat ke Jakarta, satu-satunya kemungkinan yang masuk akal, meskipun ini terkesan dipaksakan, adalah naskah cerpen ini dia ambil diam-diam dari komputer saya. Soal kepentingannya apa dan kapan mengambilnya, saya tidak bisa memastikan.

Sekali lagi, saya tidak berani bilang pasti, karena sebelum-sebelumnya dia tidak pernah bercerita kalau dia akan ke Jakarta. Dia hanya pernah bilang kalau dia ada orderan besar pada tanggal 9 September. Apa jenis orderan dan di mana lokasinya, dia tidak menjelaskan. Dan hingga hari kemarin dia belum lagi terlihat kembali pulang ke kontrakan kami. Saya sempat mencoba menelepon ke rumahnya, keluarganya bilang dia tidak ada pulang.

***

Tuan-tuan, lepas dari itu, saya sungguh tidak bisa terima perlakuan macam ini. Saya telah disekap di ruangan sempit dan pengap ini tanpa proses pengadilan. Jauh dari mana-mana, jauh dari siapa-siapa! Ini sangat menyiksa batin saya. Ditambah lagi, anak buah tuan-tuan telah berani menampar, menendang, mengencingi, dan menyetrum saya semena-mena. Saya pantas tidak terima. Saya pantas mengajukan gugatan ini! Dan saya yakin, tuan-tuan pasti belum atau bahkan tidak akan pernah memberitahukan keberadaan saya di sini kepada keluarga saya, sampai waktu yang tidak bisa atau tidak akan ditentukan, bukan?!

Memalukan! Mengapa menculik orang menjadi sebuah keahlian picisan dari korps tuan-tuan yang terhormat? Dan, anehnya, justru tuan-tuan pelihara, tuan-tuan biasakan. Satu hal lagi, tuan-tuan suka membuat cerita fiksi juga, bukan? Sayangnya, cerita fiksi tuan-tuan bukan untuk kepentingan yang baik. Tuan-tuan hanya suka membuat kambing hitam! Kalau begitu, apa bedanya tuan-tuan dengan para bandit? Tuan-tuan tanpa meminta terlebih dahulu, secara baik-baik, keterangan yang sejelas-jelasnya tentang siapa saya yang sebenarnya. Saya tidak terima diseret ke tempat terkutuk ini.

Seharusnya tuan-tuan malu pada diri sendiri dan para pelaku teror yang sebenarnya. Sebab, secara tidak langsung, tuan-tuan telah mengikrarkan diri kepada semua orang sebagai pecundang. Tidakkah itu cukup membuktikan kalau ternyata korps tuan-tuan sebenarnya bobrok?

Jangan-jangan, tuan-tuan yang merekayasa semua peristiwa konyol ini?!



Jatinangor, 2004



Catatan:
1. Takbiratul Ihram: gerakan kedua belah tangan untuk bersidekap saat memulai shalat sambil mengucapkan lafadz Allaahu Akbar.
2. Hernowo: beliau adalah penulis beberapa buku seputar quantum learning, salah satu bukunya ada yang berisi tentang kiat-kiat sukses menjadi penulis. Saya lupa judul buku tersebut.
3. CCF singkatan dari Centre of Culture Francaise. Selain sering digunakan untuk pementasan teater, tempat ini kerap pula dipakai untuk berbagai acara, terutama acara-acara yang berkaitan dengan kesusatraan.
4. Tabularasa adalah judul sebuah novel yang menjadi pemenang ketiga sayembara novel yang diadakah oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2004. Penulisnya, seorang perempuan.

Tidak ada komentar: