Senin, 19 Juli 2010

Mitologi Sisifus dan Absurditas Seni

Oleh Farhan Adityasmara
Alumnus Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta

PARA dewa telah menghukum Sisifus untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak sebuah gunung, dari puncak gunung, batu itu akan jatuh kebawah oleh beratnya sendiri. Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna, dan tanpa harapan itu. Sebuah kekonyolan repetitif yang bijaksana, atau sebuah kebijaksanaan konyol yang repetitif, atau mungkin perpaduan keduanya. Mungkin tidak ada istilah yang tepat selain absurd untuk memberikan definisi yang jelas.

Absurd is not reasonable, foolish and ridicoulus.

Dari bahasa Latin absurdus. Ab-surdus yang berarti tuli, atau bodoh. Menurut kamus, absurd berarti demikian dan terjemahannya sebagai berikut:

“Absurd is having no rational or orderly relationship to human life: meaningless (an absurd universe). Lacking order or value (an absurd existence). absurdism is a philosophy based on the believe that the universe is irrational and meaningless and that the search for order brings the individual into conflict with the universe”.

Dari sini absurd dapat diterjemahkan sebagai hal yang tidak rasional dalam hubungannya dengan kehidupan manusia: tiada artinya (alam/dunia absurd). Kurang bermakna atau tidak berharga (eksistensi absurd). Absurdisme adalah sebuah filosofi berdasarkan kepercayaan bahwa alam semesta adalah tidak rasional dan tidak berarti dan bahwa pencarian makna membawa seseorang ke dalam konflik dengan alam).

Dalam esai Albert Camus tentang Sisifus, Camus memperkenalkan filsafat Absurdisme dalam pencarian makna yang sia-sia oleh manusia, kesatuan dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang tidak dapat dipahami, yang tidak memiliki Tuhan dan kekekalan. Apakah realisasi tentang yang absurd ini harus dijawab dengan bunuh diri? Camus menjawab: "Tidak”. Yang dibutuhkan adalah pemberontakan."Ia kemudian membentangkan sejumlah pendekatan terhadap kehidupan yang absurd. Bab terakhirnya membandingkan absurditas kehidupan manusia dengan situasi yang dialami Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk untuk selama-lamanya mengulangi tugas yang sia-sia mendorong batu karang ke puncak gunung, namun pada akhirnya batu itu bergulir jatuh kembali. Esai ini menyimpulkan, "Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisifus berbahagia." Esai filsafatnya terbit pada tahun 1942. Terdiri atas 120 halaman dan terbitan aslinya dalam bahasa Prancis dengan judul Le Mythe de Sisyphe, terjemahan bahasa Inggris oleh Justin O'Brien, terbit pada 1955.

Kisah Sisifus, sesuai esai dari Albert Camus, Le Mythe de Sysiphe merujuk dari mitologi yunani karya Homer, mendeskripsikan sifat-sifatnya yang bijaksana, selalu waspada, namun pada kisah lain ia cenderung menjadi perampok atau pembuat onar. Hubungannya tentang penculikan Egina, putri dari Aesop, yang membuat para dewa menjadi murka. Pertempuran dengan Dewa kematian. Tentang kesetiaan sang istri yang bertentangan dengan kodrat manusia untuk menguburkan jasadnya, sehingga membuat Pluto memberi ijin kepada Sisifus untuk kembali lagi ke dunia untuk menghukum sang istri, namun Sisifus memberontak pada Pluto Sang Dewa, karena kenikmatan dunia yang membuat Sisifus tidak ingin kembali ke alam suram neraka. Akhirnya Merkurius datang untuk mencabut nyawanya dan ia dihukum kembali di neraka untuk melakukan pekerjaan yang absurd. Mengangkat batu besar keatas gunung, kemudian menggelindingkannya kembali kebawah, untuk selamanya. Pekerjaan yang tidak berguna dan tanpa harapan. Namun pekerjaan yang tanpa harapan itu adalah kemenangannya atas pemberontakannya pada Dewa. Pada akhirnya kita harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia, karena perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia.

Diceritakan oleh Homer bahwa,

Sisyphus was son of the king Aeolus of Thessaly and Enarete, and the founder and first king of Ephyra (Corinth). He was the father of Glaucus by the nymph Merope, and the grandfather of Bellerophon.

Menurut Homer Sisifus adalah putra dari raja Aeolus dari Thessaly dan Enarete, dan pendiri serta raja pertama dari Ephyra (Korintus). Ayah dari Glaucus dari seorang bidadari Merope dan kakek dari Bellerophon.

Yang membuat karya Albert Camus ini menjadi kuat dan bergema adalah karena karya ini ditulis oleh seorang autodidak, (pada saat itu Camus tidak dapat mendaftarkan diri untuk ujian akhir filsafat karena menderita tuberkulosa).

A metaphor for modern lives spent working at futile jobs in factories and offices. "The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious".

Sisifus adalah mitologi yang merupakan metafora dari kehidupan modern saat ini, di mana buruh-buruh pabrik dan pekerja kantoran melakukan tugas yang sama sepanjang hari selama hidupnya. Melakukan tugas yang sama dan nasibnya ini tak kalah absurd. Namun ketragisannya hanya muncul di saat mereka sadar akan nasibnya.

Hal ini juga sangat kental terasa di dalam dunia seni. Para seniman terus menerus berkarya apakah itu berupa karya seni rupa, seni pertunjukan, bahkan fotografi dan video art. Membuat suatu karya pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit, karena seniman biasanya lebih mengutamakan idealisme. Bagaikan mengangkat sebuah batu besar ke puncak gunung, namun pada saat sang seniman mempertunjukkan hasil karya kepada apreasiator, di situlah saat-saat dia melihat batu besar itu meluncur ke bawah. Di situlah letak kepuasan, terlebih apabila karya tersebut dihargai oleh orang lain baik secara materi maupun non-materi. Namun setelah selesai, dia harus berkarya lagi, dia harus mengangkat batu itu lagi ke puncak gunung.

Seniman—tradisional pada khususnya—di Indonesia, tidak bisa dipungkiri belum sepenuhnya memperoleh penghargaan secara profesional dari pekerjaan mereka. Berbeda mungkin dengan seniman-seniman yang sudah memiliki nama besar dan jam terbang tinggi. Hal ini tak terkecuali, seniman dari seni pertunjukan, seni rupa, termasuk fotografi. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di luar negeri, khususnya di Eropa, Amerika, dan Australia, kesenian, sangatlah dihargai. Penulis sempat berinteraksi dengan salah seorang seniman pertunjukan tari dari Australia, dia bisa menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 3.000.000,00 apabila di-kurs-kan dengan rupiah, untuk 1 jam mengajar atau memberi kursus tari, di negaranya. Sangatlah kontras dengan apa yang terjadi dengan apa yang terjadi di negara kita. Ada yang tahu gaji pengajar seni tari di sanggar-sanggar tari?

Pengalaman yang pernah saya jadikan sampel penelitian, untuk sebuah pertunjukan tari Reog Dhodog, sebuah tarian khas daeah Sonopakis, Bantul, untuk sekali pertunjukan dengan pemain dan pengiring musik tradisional sebanyak 15-20 orang, bayaran yang didapat hanya rata-rata sekitar Rp. 600.000,00 sampai Rp. 750.000,00. Berarti setiap pemain maksimal hanya mendapatkan bayaran maksimal sebesar Rp. 37.500,00. Hal yang sangat wajar terjadi, dan anda dapat memberi penilaian sendiri. Melalui observasi dan interaksi langsung dalam kegiatan-kegiatan berkesenian, penulis menyadari bahwa kepuasan dari seorang seniman memiliki nilai lebih daripada sekedar materi. Seni dan absurditas seperti tweedledum and tweedledee.


Sumber: indonesiaartnews.or.id

1 komentar:

dede supriyatna mengatakan...

makasih, mas atas tulisannya, maaf tulisan ini saya copy tanpa ijin, untuk dijadikan refrensi skripsi saya. terimakasih